Sabtu, 26 Februari 2011

Liontin Masa Kecil

“LIONTIN MASA KECIL”
Mari Kita Mulai
Bukit Seribu Mimpi
Hari itu saatnya Nanda untuk bermain sepeda dengan Fajri, rasanya senang sekali, Nanda bisa mengendarai sepedah dengan kondisi kakinya yang lumpuh itu.
Matahari terlihat seperti Buah Jeruk, terang sekali. Lalu Fajri pun menjemputnya di rumah, sungguh sangat senang hatinya… Nanda berpamitan kepada bunda untuk bermain sepedah dengan Fajri, tapi kelihatannya bunda tampak khawatir, padahal mereka sudah sering pergi bermain sepeda bersama. Sejak kecil sampai sekarang Nanda sering sekali bermain dengan Fajri dan setelah bermain, biasanya mereka beristirahat sebentar di Bukit Seribu Mimpi. Mereka menamai bukit itu Bukit Seribu Mimpi karena di bukit itu Nanda dan Fajri sering bermimpi tentang sesuatu yang belum pernah mereka dapatkan. Dan hal yang paling menarik lainnya mereka menulis sebuah mimpi yang mereka ingin dapatkan dan menaruh kertas itu dalam sebuah kotak kaleng. Dan sampai sekarang Nanda tidak tahu apa yang paling diimpikan oleh Fajri. Bukit itu hanyalah bukit biasa yang ditumbuhi rumput-rumput yang hijau dan bunga-bunga yang begitu menggoda untuk dihisap oleh para lebah, tapi ada yang membedakan di bukit itu, disana terdapat pohon pinus yang menjulang tinggi dan ditambah dengan tumbuhnya bunga anggrek di batang pohon pinus sungguh sangat mengagumkan. Itulah alasan kenapa Nanda dan Fajri selalu menghabiskan waktu bersama di Bukit Seribu Mimpi. Jaraknya pun tidak jauh cukup 15 menit dari rumah Nanda dengan menaiki sepedah ke bukit itu. Hari itu hari minggu, Fajri mengajak Nanda ke Bukit Seribu Mimpi. Tapi hari itu aneh Fajri meminta Nanda untuk pergi ke Bukit itu sendiri tanpa bersamanya. Dan pada hari itu Nanda diantar oleh Pak Gendon supir pribadi mereka. Lega rasanya sudah sampai di Bukit Seribu Mimpi. Nanda disambut dengan kicauan burung dan Fajri pun telah menunggunya di dekat pohon pinus yang paling besar dan tinggi di banding pohon pinus yang lain, karena disanalah mereka mengubur mimpi-mimpi mereka. Fajri tersenyum dan nampaknya Fajri menyembunyikan sesuatu dari Nanda. Tapi belum Nanda bertanya tentang apa yang disembunyikannya, dia langsung menutupi mata Nanda dengan sebuah kain. Nanda terkejut, tapi Fajri berkata bahwa dia tidak akan apa-apakan Nanda. Dan Nanda pun percaya karena dia bukanlah orang yang asing baginya. Bertapa terkejutnya Nanda setelah dia membuka tutup matanya.
“Fajri, apakah itu semua bukan mimpiku saja?”
“Nanda kamu tidak sedang bermimpi. Itu memang untuk kamu. Jadi simpan baik-baik yah.”sebuah liontin berbentuk sepeda, Fajri bilang itu adalah tanda bahwa mereka suka sekali bermain sepeda bersama. Nanda pun menjaga liontin itu baik-baik. Bertapa indah rasanya mendapatkan liontin yang penuh arti itu apalagi dari sosok orang yang sangat Nanda cintai meski dia tak tau perasaannya yang sebenarnya. Berat sekali tuk mengatakan bahwa AKU CINTA KEPADAMU!!!!!! Ujar Nanda. Karena Nanda tahu mungkin dia hanya menganggapnya hanya sebagai teman. Apakah dia terlalu lugu untuk hal itu? Apakah dia terlalu kasihan kepada Nanda dengan kondisiknya itu? Entahlah, Nanda terus berargumen dengan hatinya sendiri. Bisakah satu hari saja Nanda berhenti untuk memikirkannya?


AKU AKAN MENUNGGUMU!!!!

Hoam.... rasanya mata Nanda masih lelah. Tapi waktu sudah menunjukkan pukul setengah 5 dan Nanda pun segera mengambil air wudhu dan pergi shalat. Nanda bersiap-siap berangkat sekolah, dan Nanda sekarang berada di cermin, rasanya baru kemarin Nanda berumur delapan tahun, dan waktu telah berlalu dengan cepat dan sekarang Nanda telah duduk di kelas XI IPA 2. Dan pertemanan Nanda dan Fajri masih erat dan tak mungkin terpisahkan. Tak mungkin...!!!!
“Nanda!”suara itu seperti tak asing lagi baginya.
“Fajri! Ada apa Fajri?”
“Nanda ada kabar baik untuk kamu!”
“Emang ada apa?” rasanya jantung Nanda berhenti sekejap
“Aku dapat beasiswa ke Luar Negeri dan sepertinya setelah lulus SMA nanti aku akan melanjutkannya di Australia di Universitas yang aku inginkan dari dulu.”
“Oh... udah gitu aja? eh selamat yah kamu bisa pergi keluar negri dan mencapai cita-cita mu.”Nanda cemberut karena mungkin Nanda tidak dapat bertemu kembali dengan pria yang selalu menemaninya dari kecil sampai sekarang.
“Nanda, kenapa kamu cemberut? Kamu gak senang yah kalau aku mendapat beasiswa?”
“Ohh... Nanda tentu senang. Tapi Fajri, bukannya Nanda tidak senang, Nanda selalu bahagia akan prestasi ataupun penghargaan yang kamu dapatkan. Tapi untuk yang satu ini Nanda merasa sedih.”
“Sedih kenapa?”
“Mungkin Nanda terlalu egois, tapi, Nanda sedih karena kita tidak bisa bertemu lagi. Dan aku tidak bisa untuk melupakanmu.” Nanda menangis karena tidak sanggup untuk melepasnya pergi dari hidupnya. Fajri mengerti akan perasaannya, diapun memegang pundak Nanda, dan memutarnya tepat ke arahnya dia mencoba menenangkan Nanda. Baru kali ini Fajri begitu, biasanya waktu Nanda menangis dia hanya diam.
“Nanda, kamu jangan menangis karena kita masih bisa berhubungan baik. Kita kan masih bisa chatting atau kirim e-mail!” Fajri berkata dengan penuh keyakinan kepada Nanda.
Tadi siang adalah saat yang menyedihkan di kehidupan Nanda saat itu. Tapi Nanda tidak bisa menahan Fajri pergi, karena Nanda tidak bisa mempertahankan kepentingannya sendiri karena itu amatlah tidak baik. Apalagi untuk Fajri yang akan melanjutkan sekolahnya dan meraih cita-cita dan mimpinya.
Hari Kepergian Fajri
“Nanda, kenapa kamu cemberut aja?”
“Bun, Nanda sedih harus melepas Fajri dari hidup Nanda. Bunda juga taukan, Fajri selalu ada disetiap hari-hari Nanda.”
“Tapi Nanda kamu harus bisa hidup tanpa Fajri karena tak mungkin selamanya kamu harus dengan Fajri kamu harus menjadi wanita yang mandiri. Dan Bunda percaya kamu pasti bisa.”
“Iya bun, Nanda tau, dan Nanda janji dalam hidup Nanda, Nanda akan berusaha hidup tanpa Fajri.”hari itu memang hari yang berat dalam hidup Nanda, tapi Nanda berusaha untuk ceria di depan Fajri. Meski dalam hati ingin rasanya Nanda pergi ke suatu tempat yang sunyi dan menangis sekeras-kerasnya disana.
“Nanda kamu kenapa? Apa kamu tidak sedih lagi untuk melepasku pergi?”
“Engga kok, Nanda seneng.”padahal di dalam hati, Nanda sangat sedih Fajri.
“Bagus lah. Tapi, Nanda... jika kamu ingat aku dan jika kamu kesepian peganglah liontin sepeda ini dan ingatlah hal yang pernah kita lalui bersama hanya kebahagiaan yang kita lalui, dan bayangkanlah bahwa hari itu adalah hari dimana kita selalu bersama.” Fajri menatapku dengan penuh keyakinan dan disitu Nanda seperti anak yang diberikan arahan oleh seorang ibu hanya menunduk dan Nanda pun mengangguk. Nanda tak berani untuk menatap wajahnya karena Nanda takut untuk menatap matanya. Karna mata itu mungkin akan Nanda rindukan, karena mata Fajrilah yang membuat Nanda senang berkeling-kerling kian kemari. Itulah mata Fajri.
“Nanda?”
“Apa?”
“Nampaknya kamu sakit yah?”
“Sakit?”bukan badan ini yang sakit Fajri, tapi hati ini! Yang tak bisa menyuburkan tanahnya tapi hati ini bisa subur dengan senyum dan perhatianmu.
“Kok dari tadi diam aja? Jawab dong! ”
“Eh... oh ya..,Fajri ku akan selalu ingat apa yang kamu katakan. Dan kamu jangan cemas begitu, Nanda gak papa kok.” Nampaknya Nanda melamun, entah berapa lama.
Dan acarapun dimulai Fajri mengucapkan salam perpisahan kepada kami semua. Hari itu Fajri menggunakan pakaian kemeja kotak-kotak berwarna biru muda dan celana hitam panjang, wah auranya terpancar dengan memakai pakaian seperti itu apalagi dengan rambutnya yang dibelah dibagian pinggir smakin membuat dia...... ah sudah dari tadi Nanda banyak ngelamun terus. Nanda mengantarkan Fajri ke Bandara.Dan itu saatnya Fajri untuk berangkat ke Australia dan sebelum melepasnya pergi, Nanda memeluknya dengan erat. Karena Nanda tau suatu saat Nanda pasti akan selalu merindukannya. Nanda berusaha untuk tidak menangis dan berhasil. Tapi, sampai dirumah. Nanda menangis di kamar Nanda menangis dengan muka di tutupi guling, karna Nanda ingat kata Fajri “menangislah sekeras-kerasnya jika menurut kamu dapat menangkan hatimu karna tidak setiap air mata itu buruk”
Waktupun bergulir sangatlah lambat dengan hari-hariku tanpa Fajri. Nanda sering menangis akan kepergiannya. Nanda sering sekali pergi ke Bukit Seribu Mimpi dan menangis disana entah kenapa setelah Nanda menangis disana, rasanya Nanda telah bertemu Fajri. Sekarang tidak ada lagi orang yang menyalakan senternya ke depan jendela kamar rumah Nanda untuk melihat bintang bersama. Menunggu datangnya gerimis. Sungguh banyak kenangan yang tak bisa Nanda lupakan bersama Fajri. Beberapa hari setelah kepergian Fajri, Nanda ditemukan pingsan, lemas tak berdaya di kamarnya, terlihat ceceran darah dimana-mana. Nanda pun segera dibawa ke Rumah Sakit. Dan dokter bilang, Nanda terkena penyakit Leukemia yaitu penyakit kanker darah, dan Nanda harus cepat-cepat melakukan operasi Tulang Belakang. Kini Nanda pindah Ke Jakarta untuk melakukan perawatan yang lebih serius lagi. Nanda tidak tau akan penyakitnya, dan di Jakarta, Nanda melanjutkan sekolahnya yaitu ke salah satu Universitas di Jakarta.